Tampilkan postingan dengan label FANFIC HURT/COMFORT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FANFIC HURT/COMFORT. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Maret 2017

The Secret part Two



Summary : “Apa kau tahu siapa ibu kandung Menma?” tanya Gaara mengalihkan topic. Sasuke tak menjawab. Ia memalingkan wajahnya. “Jadi, benar kau tahu.” Kata Gaara sambil tertawa getir. “Aku bukan ayah Menma,” kata Sasuke. Gaara mendengus. “Kau pikir aku percaya? Hanya kau seorang Uchiha yang tersisa di dunia ini,” “Kalau kau berkata seperti itu, berarti Naruto tidak menceritakan semuanya padamu,” Not Yaoi.
DISCLAIMER : Naruto Belongs to Masashi Kishimoto
Genre : Friendship dan Hurt/Comfort
Rating : T
WARNING : Ide pasaran, bertebaran typo, gaje, Canon dan bashing beberapa chara.
Author Note :
Di alam bawah sadar, Ai menyebutnya kesadaran. Wujud awalnya berbentuk cahaya. Setelah jaraknya dekat, cahaya itu berubah menjadi sosok manusia dari kesadaran itu.
Percakapan antara manusia dengan bijuu Ai tulis dengan huruf dibold, biar jelas.
“blablabla..” percakapan biasa.
“blablabla..” percakapan dengan bijuu


Don't Like Don't Read

Chapter Five part Two

“Kau mau membunuhnya?” Nada bicara Sasuke dingin dan mengancam.
Hinata terperanjat karena aksinya terpergok oleh Sasuke, tapi ia berhasil menguasai diri. “Mana mungkin,” elaknya. “Aku hanya membantunya agar ia..,” Hinata tersenyum manis penuh simpati. “..tidak perlu menderita lagi. Kematian adalah solusi tepat untuk mengakhiri penderitaan Naruto-kun. Bukan begitu Sasuke-kun?” Suara Hinata terdengar manis merayu, tapi itu tidak berpengaruh pada Sasuke.
Cengkeraman Sasuke menguat. Oniksnya berkilau asing. Tubuh Hinata menggigil samar. Firasatnya mengatakan itu buruk. Tapi, sudah terlambat bagi Hinata untuk menyadarinya, ketika oniks Sasuke berubah menjadi sharingan berputar-putar dan memerangkap Hinata dalam dunia genjutsu Sasuke. Ia hanya bisa mendecih sial dalam hati. Saat matanya terbuka, ia sudah terikat pada pancang tiang bersama ratusan Hinata lainnya.
Lalu, perlahan ia merasakan sayatan demi sayatan benda tajam melukai kulit mulusnya. Tidak mengenai organ-organ vitalnya secara langsung. Sayatannya hanya beberapa inci jaraknya dari organ-organ vitalnya. Dengan demikian, Hinata tidak akan langsung mati. Tapi, Hinata tidak bisa menghela nafas lega. Sebaliknya, ia justru dicekam rasa takut, karena ia tahu Sasuke sengaja melakukannya.
Sasuke tidak berniat membunuhnya secara cepat dan tanpa sakit. Ia ingin berlama-lama menyiksa Hinata hingga rasa sakit itu mencengkram otaknya dengan erat bagai kulit yang membungkus tubuhnya. Sangat erat hingga jika pun ia selamat, rasa sakit itu akan terus mengikutinya, mengkungkungnya dan menghantuinya seumur hidupnya. Hanya satu orang di dunia ini yang bisa menyembuhkannya dari trauma itu, yakni Tsunada-sama yang ia yakini tak akan pernah mau menolongnya setelah semua yang ia lakukan pada Naruto.
Hinata megap-megap, tersedak oleh air ludahnya sendiri. Ia mengerang panjang, merasakan nyeri dan perih di tempat-tempat bekas Sasuke menggoresnya dengan kunainya. Ia tahu ini hanya ilusi, tapi ia tak berdaya melawannya. Rasanya begitu nyata. Kepalanya pusing. Pandangannya nanar. Tubuhnya serasa melayang-layang, tapi benaknya tetap sadar dan tahu apa saja yang dilakukan Sasuke pada tubuhnya.
“A-ampun, S-sasuke, am-ampun.” Kata Hinata memohon ampun menghiba diantara deru nafasnya yang tidak beraturan. Namun, Sasuke tidak mengubrisnya.
“Siapa yang memberimu hak membunuh Naruto, Hah?” bentak Sasuke kasar.
“A-aku…” Hinata tergagap, menelan ludah yang menyumbat pita suaranya. “Para tetua.” Jawabnya tanpa pikir panjang. “Mereka menganggap Naruto adalah ancaman karena itu ia memberiku misi ini,”
“DUSTA!” teriak Sasuke menggema, menyelebungi dunia genjutsu yang memerangkap Hinata. Tiba-tiba saja ia sudah berada tepat di depan Hinata dengan jarak yang terpaut 5 cm. Hinata refleks memejamkan mata, terlalu takut melihat sharingan Sasuke.
“A-aku t-tidak..”
“Kau bohong, Hinata.” Potong Sasuke. Suaranya berhembus membelai kulit Hinata yang terbuka. Hinata memejamkan matanya rapat-rapat, merasakan melalui indera perabanya dinginnya kunai Sasuke pada kulit di lehernya. Sasuke membelai kulit lehernya dengan kunainya, seolah mencari tempat mana yang akan memberinya kepuasan tak terhingga jika kunai itu menggores kulit Hinata.
“Akhkkhff…” rintih Hinata merasakan kunai Sasuke membuat jejak goresan panjang pada lehernya. Darah segar mengalir dari kulit lehernya yang terbuka. Jantung Hinata kebat-kebit mengingat betapa dekatnya goresan kunai Sasuke pada pembuluh nadinya. Darahnya berdesir menunggu dengan was-was kapan kunai itu memotong pembuluh nadi utamanya.
Tapi, Sasuke tidak melakukannya. Ia hanya membuat sayatan demi sayatan pada tiap inci kulit leher Hinata, mencongkelnya agar lubangnya lebih lebar, dan menikmati tiap goresan plus rintihan kesakitan Hinata. Kesadaran Hinata sudah hampir pada ujungnya, ketika Sasuke berkata. “Para tetua tidak akan memberimu misi seperti itu karena..”
Mata Hinata terbuka secara mendadak, menatap Sasuke. Ada kengerian mengintip pada irisnya. ‘Tidak mungkin ia tahu,’ pikirnya kalut. “K-karena…?” tanyanya takut-takut.
“Karena jika Naruto mati dengan cara yang tidak wajar, maka aku akan memusnahkan Konoha,” desis Sasuke lirih sambil menghujamkan ujung kunainya pada leher Hinata dalam-dalam.
Ketakutannya mengalahkan rasa sakitnya. “TIDAK MUNGKIN!” jerit Hinata panik. Tali tipis yang jadi harapan hidupnya hampir putus. Ia tak mungkin bisa selamat dari ini. Ia ceroboh. Ia pikir rencananya untuk memisahkan SasuNaru sudah sempurna. Jurang yang ia ciptakan diantara SasuNaru tak mungkin bisa diseberangi. Jadi, tak mungkin keduanya akan saling menolong jika ia melukai dan membunuh salah satunya. Tapi, ia salah.
Hinata bertanya-tanya dalam hati. Seerat itukah hubungan Sasuke dan Naruto hingga keduanya bisa merasakan bahaya yang mengancam satu sama lainnya? Bukannya Sasuke membenci Naruto? Dan, begitu pula dengan yang sebaliknya? Tapi..tapi.., kenapa Sasuke mengancamnya karena ia mau membunuh Naruto? Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Apa yang sudah ia lewatkan? Otak Hinata macet.
“Asal kau tahu saja, selama ini aku tak pernah berniat menyelamatkan dunia shinobi. Itu keinginan Naruto. Aku mau bertarung dengan Kagura bukan untuk Konoha ataupun dunia shinobi, melainkan untuk diriku sendiri. Jika Naruto mati, kau pikir ada lagi yang bisa menghentikanku…”  Sasuke tersenyum bengis. “..memusnahkan dunia shinobi ini?” tanya Sasuke sambil menyeringai kejam.
“Tidak. Kau tidak mungkin melakukannya. Kau ini hokage, kage paling kuat dan paling disegani di dunia elemental.” Isak Hinata putus asa.
“Si Dobe yang bercita-cita jadi hokage. Bukan aku.” Sasuke melanjutkan pekerjaan yang sudah dimulainya, yaitu menyiksa Hinata.
“A-ampun S-Sasuke, ampun.” Jerit Hinata diantara lolongannya.
“Katakan yang sebenarnya! Kenapa kau ingin membunuh Naruto?”
“Aku tidak.. Arhlhg@#$..” Lolongan Hinata terdengar melengking, menyayat hati. Saat penyiksaannya berhenti sejenak, ia mengambil nafas dengan rakus, mengumpulkan setiap atom kekuatannya. Ia membutuhkannya untuk lepas dari genjutsu Sasuke, meski ia tak yakin berhasil selamat. Klan Uchiha terkenal sebagai ahli genjutsu dan Sasuke masternya.
Mata Hinata membelalak, saat kunai Sasuke bergerak ke area matanya, menggoresnya perlahan, meninggalkan belahan kulit yang lebar layaknya sungai. Darah mengalir deras dari celahnya. Hinata hanya bisa melolong tanpa suara ketika Sasuke mencukil bola matanya yang sebelah kiri. Rasa sakitnya mengelenyar menyebar ke seluruh tubuhnya, mengambil hampir semua persediaan energinya.
Dan, ketika Sasuke hendak melakukan hal yang sama pada sebelah matanya lagi, Hinata tak sanggup lagi bertahan. Ia pun buka suara. “Semua ini salah Naruto,” raung Hinata memuntahkan kebencian yang sudah dipendamnya sekian lamanya. “Gara-gara dia aku jadi begini.” Isaknya seperti orang gila, tertawa histeris.
“Akulah yang pertama mengakui keberadaannya, mengaguminya, dan mencintainya, tapi dia…” Hinata mendesis, meluapkan kedengkian dan kebenciannnya. “..tidak menoleh padaku sedikitpun. Selalu saja Sasuke, Sasuke, dan Sasuke. Hanya itu yang ada di otaknya. Aku benci. Aku membencinya dengan segenap jiwa ragaku,” Ujarnya.
Mata Hinata mengeras. “Karena itulah, aku mengadu domba kalian, mempengaruhi para penduduk desa untuk membenci Naruto dan juga membuatmu terpilih sebagai hokage. Puncaknya, aku akan menikahimu dan lalu membunuhmu pada malam pengantin kita. Aku ingin Naruto merasakan sakitnya kehilangan orang yang disayanginya. Itu akan jadi balas dendamku yang paling sempurna. Ha ha  ha…” Hinata tertawa jahat, menertawakan aksi balas dendamnya yang hampir rampung.
Sasuke diam mendengarkan. ‘Sakit jiwa,’ batinnya. Bahkan, para anggota Akatsuki yang paling jahat pun kalah jahat dari Hinata. Cinta obsesif memang mengerikan. Ia jadi kagum pada Sakura yang meski tergila-gila padanya dan sering Sasuke acuhkan, tapi tidak berubah jadi makhluk mengerikan seperti yang ada di depannya ini. Sakura tetap waras.
“Tapi.. si brengsek ini malah sekarat. Ha ha ha…ia terlalu pengecut untuk bertahan hidup. Ia…”
“Kau salah lagi, Hinata. Sekaratnya Naruto adalah bukti betapa kuatnya dia. Tekadnya  untuk tetap hidup sangat kuat agar orang-orang tercintanya tidak terkena dampak buruk Kyuubi yang menggila, khususnya kau.”
Hinata untuk pertama kalinya merasa waras. Otaknya bisa berfikir jernih setelah ia ditolak mentah-mentah Naruto. Ia mendongak. Lavendernya menatap lurus Sasuke. “Apa maksudmu?” tanyanya dipenuhi rasa ingin tahu.
“Naruto menolakmu bukan karena tidak menyuaimu apalagi membencimu, tapi untuk menjauhkanmu dari masalah yang membelenggunya.” Kata Sasuke.
“Kau bohong!” tukas Hinata.
“Naruto hamil.” Bagai disambar petir, tubuh Hinata membeku di tempat. Matanya membelalak menatap Sasuke ngeri. “Ah bukan. Tepatnya, Kyuubi yang hamil. Karena perkosaaan. Setelahnya, Kyuubi jadi gila.” Potongan demi potongan informasi mengerikan itu meluncur dengan lancarnya dari bibir Sasuke. Hinata menyimak. “Ia tak mau kau terseret masalah pelik ini, karena itu ia tak mau menjawab pernyataan cintamu. Ia ingin menanggungnya sendiri. Itu adalah bukti betapa ia menyayangimu.”
“Tidak,” isak Hinata dengan tubuh lemah lunglai. Ia baru menyadari betapa buruknya dia. Betapa jahatnya dia. Ia memandang hina dirinya karena telah menyakiti Naruto sangat dalam. ‘Naruto,’ panggilnya dalam hati. Tubuhnya terguncang-guncang, larut dalam kesedihan. Ia terduduk di lantai, apatis setelah Sasuke melepaskan genjutsunya. “Itu tidak mungkin,” racaunya diantara siak tangisnya.
Sasuke menatap Hinata penuh perhitungan. Ia tak tahu apa yang dikatakannya. Itu meluncur begitu saja. “Kau masih bisa memperbaikinya, Hinata. Bantu Naruto. Tebus dosamu pada Naruto,”
Hinata mendongak, menatap Sasuke. Matanya sembab oleh air mata. “Apa?”
Saat itulah, Sasuke tahu apa yang harus dilakukannya selanjutnya. Ia lalu membeberkan rencananya pada Hinata dan disetujui Hinata dengan anggukan.

SKIP TIME

Bulan bergerak di atas langit bersinar terang diantara bintang yang berkerlap-kerlip. Beberapa shinobi yang terdiri dari gabungan shinobi Konoha dan Suna duduk melingkar di atas diagram khusus yang dibuat oleh Yonbi dengan Sasuke sebagai pusatnya. Suasana malam ini begitu hening, syahdu, seolah tahu akan adanya peristiwa besar hari ini. Angin malam yang berasal dari gurun pun tidak berhembus sama sekali malam ini, seolah takut merusak hari ini.
Mereka semua berkonsentrasi penuh pada tugasnya masing-masing. Para bijuu mengalirkan cakranya masing-masing pada aliran garis yang menuju pusat diagram tempat dimana Naruto berbaring lemah. Gaara, Temari, Shikamaru, Shuigetsu, Kiba, Kankurou, dan Jugo berjaga di posnya masing-masing melakukan hal yang sama seperti para bijuu yakni mengalirkan cakra mereka pada diagram. Sasuke dan Hinata, sebagai pewaris darah Ootsuki membuka segel yang menghubungkan antara kesadaran Naruto dengan Shikadai yang duduk di dekat Naruto.
Ritual ini berlangsung singkat, sangat singkat, hanya dalam hitungan detik dan menit. Akan tetapi, keheningan yang ganjil dan ketegangan yang dirasakan masing-masing pihak, membuat mereka merasa ini berjalan selama berjam-jam lamanya.
Setelah mendapat isyarat dari Sasuke, perlahan-lahan kesadaran Shikadai meninggalkan kesadarannya dan memasuki alam bawah sadar Naruto. Saat ia membuka mata, ia berada dalam sebuah ruangan yang gelap. Begitu gelapnya hingga ia bahkan tak bisa melihat dirinya sendiri.
Reaksi awalnya, Shikadai panik. Ia dilanda ketakutan. Padahal selama ini, ia yakin, ia tidak takut gelap. Tapi, khusus tempat ini, ia ngeri. Ia merasakan aura tak wajar dari kegelapan ini. Ia seperti tercekik oleh hawa kejahatan yang menyedot semua kebahagiaannya.
Ia bernafas tersengal-sengal seolah pasokan udara bersih sudah dicabut dari paru-parunya secara mendadak. Otaknya memerintahkan lari dari tempat terkutuk ini. Tapi, kakinya tak mau diajak bekerja sama. Ia hanya terpaku di tempat karena ia tak tahu kemana harus lari. Di sekelilingnya, hanya ada kegelapan, kegelapan dan kegelapan. Kegelapan itu mengepungnya dari berbagai sisi.
Lalu, ia mendengar suara Sasuke berkomunikasi melalui benaknya. “Abaikan! Itu aura Kyuubi. Panggillah nama Naruto! Jika ia mendengarmu, ia akan menuntunmu ke tempatnya.” Berkat itulah, Shikadai berhasil mengatasi ketakutannya dan tekadnya untuk menuntaskan misinya semakin teguh.
“Naruto-san! Naruto-san!” panggilnya.  Mungkin kurang keras karena tak ada sahutan sama sekali. Justru bulu kuduknya yang semakin meremang yang menjawabnya. Shikadai menggeleng-glengkan kepalanya mengusir ketakutannya. Ia menguatkan perisai mentalnya (jika ada) dan mulai memanggil Naruto lagi. “Naruto-san!” Masih tidak ada sahutan, meski panggilannya yang kedua lebih keras dari yang pertama.
Rasa cemas itu kembali. “NARUTO! NARUTO!” Kali ini, Shikadai berteriak sekeras-kerasnya berharap Naruto mendengarnya. Lalu, tiba-tiba muncul sebuah kesadaran lain menuju Shikadai berada. Ia bertanya-tanya dalam hati, ‘Siapa itu? Naruto kah?’ Kesadaran itu lalu memperlihatkan cahayanya dan juga wujudnya. Ternyata itu… “Menma!” pekik Shikadai senang. “Bagaimana kau bisa masuk ke sini?” tanyanya lagi bingung.
Khlhayh baba dada..jaja…” celoteh Menma yang tentu saja tidak dimengerti Shikadai.
Shikadai menepuk jidatnya, menyadari kebodohannya. Bisa-bisanya ia bertanya pada balita yang bahkan tak bisa mengucapkan kosa kata dengan benar. “Aku tidak mengerti ucapanmu, Menma, tapi.. sudahlah. Lupakan saja. Tidak penting ini. Aku senang kau di sini. Kita pergi mencari Naruto-san bersama-sama, ya?” Ajaknya sambil menggendong tubuh Menma. Bersama Menma, kegelapan itu tidak lagi menerornya. Ia merasa yakin bahwa ia akan berhasil.
“Lalu, ia melihat kesadaran yang bersinar terang tak jauh dari tempatnya. Shikadai bergegas hampir berlari mendekatinya. Ia melihat kesadaran itu berubah bentuk menjadi sesosok pemuda yang indah yang tengah berbaring di atas ranjang di depan sana. Shikadai tidak bisa menyebutnya tampan ataupun cantik karena ia perpaduan dari dua hal itu. Yang jelas, ia sangat indah menawan, sesuatu yang belum pernah dilihatnya di dunia ini. Dan, yang terutama Shikadai merasa damai di dekatnya. Jika angel itu ada, mungkin orang inilah angel itu.
“Dada!” teriak Menma memberontak dari gendongan Shikadai. Dengan penuh semangat ia merangkak dan memanjat dalam ranjang orang tersebut. Tangan mungilnya menepuk-nepuk pipi orang itu dan berceloteh riang. Perlahan, kedua mata orang itu terbuka memperlihatkan safirnya yang mempesona. “Kau siapa?” tanyanya dengan suara yang jernih memikat.
“Anda Naruto-san?” tanya Shikadai yang kini berdiri di samping kanan orang tersebut.
“Aku mengenalmu?” tanya orang itu balik.
“Namaku Shikadai, putra Shikamaru Nara dan Temari Nara. Kita tidak pernah bertemu, tapi kedua orang tuaku sering bercerita tentangmu,”
“Oh ya?” pekiknya lalu tertawa geli. Ia berusaha bangun dengan susah payah dan lalu membawa Menma dalam pangkuannya. “Jadi, Shika sudah menikah dan punya anak? Wah, berarti sudah lama sekali aku tidur. Aku hanya ingat, aku tertidur usai berduel dengan Sasuke. Sesudahnya, aku tak ingat lagi.”
“Anda koma sesudah itu.” kata Shikadai meniru apa yang diajarkan Sasuke, berjaga-jaga jika Naruto bertanya. “Dan anak ini, anaknya Sasuke-jisan.”
“Sasuke pun sudah menikah? Dengan siapa?”
“Segeralah sadar! Kami semua merindukan anda. Dunia ini tidak lengkap tanpa anda.” Elak Shikadai. Ia sudah diperingatkan Sasuke dengan sangat-sangat keras, untuk memberi sesedikit mungkin informasi pada Naruto. Dan, informasi soal orang tua Menma masuk dalam daftar terlarang, tidak boleh diketahui Naruto secara mutlak. Ia hanya boleh tahu jika Sasuke adalah ayahnya Menma. Titik tidak pakai koma.
Orang itu tersenyum lalu mengangguk. Sesudahnya, kesadaran Menma menghilang. Shikadai menyusul beberapa detik kemudian. Shikadai bangun dengan nafas terengah-engah. Ia tidak sendiri. Beberapa shinobi yang senior pun kondisinya sama sepertinya. Sasuke, mantan hokagenya bahkan sudah pucat pasi seperti mayat, tergolek lemah.
Karin dan tim medis Suna bergerak cepat, menolong para shinobi di ruangan itu. Shikadai ingat. Matsuri-basan meraihnya dan lalu menyembuhkannya. Selama proses itu, ia diam saja. Setelah keadaannya tenang, para tim medis sudah meninggalkan tempat itu dan sekaligus memindahkan tubuh Naruto ke ruang perawatan selanjutnya, barulah ia buka suara. “Naruto-jisan kehilangan ingatannya.” Kata Shikadai.
Semua kepala menoleh pada Shikadai. Mantan hokagenya bergumam lirih yang berhasil ditangkap Shikadai hanya kalimat, ‘Kyuubi benar,’.  Mungkin mantan hokagenya ini sudah diberitahu oleh Kyuubi, jika Naruto akan mengalami amnesia. Shikadai membuka mulut lagi. “Ia hanya ingat peristiwa sebelum duel Sasuke-sama dengan Naruto-san usai mengalahkan Kau-Tahu-Siapa.”
Shikadai menolak menyebut nama Kaguya, Madara dll yang jadi pencetus perang mengerikan dalam peradaban shinobi. Nama itu jadi mimpi paling buruk dalam ingatan para shinobi, seolah-olah dengan menyebut namanya akan membuat mimpi buruk itu hadir lagi dalam kehidupan mereka.
Ayahnya diam terpekur menatap lantai. Ibunya mengelus kepala Shikadai, enggan menatap mata Shikadai secara langsung. Sedangkan, shinobi dewasa lainnya hanya menatap muram tembok, lantai atau langit-langit ruang ini. “Aku juga melihat Menma muncul dalam kesadaran Naruto-san.” Kata Shikadai lagi. Ia mendapat atensi semua orang kembali. “Aku bilang pada Naruto-san, jika ia anak Sasuke-sama.” Lanjutnya.
“Kau tidak mengatakan nama ibunya, kan?” tanya Sasuke.
“Tidak.”
“Kerja bagus, Shikadai. Kau hebat. Persis seperti ayah, ibu, kakek, dan paman-pamanmu,” puji Sasuke membuat pipi Shikadai merona.
Ia menundukkan kepalanya untuk menutupi pipinya yang merah sempurna. “T-terima kasih,” ujarnya tergagap.
Semua orang yang hadir hanya tertawa menertawakan tingkah Shikadai yang menurut mereka lucu.
“Boleh minta waktunya sebentar?” Kata Hinata. Semua shinobi kini beralih menatap Hinata ingin tahu. Sasuke diam, tapi matanya menatap tajam, memberi Hinata peringatan agar tidak macam-macam. “Aku ingin mengumumkan jika pertunanganku dengan Sasuke dibatalkan, karena aku..aku..” Hinata menghirup nafas panjang. “..akan masuk biara. Aku ingin menjadi biksuni,”
Suasananya hening. Masing-masing dari mereka sibuk mencerna isi pengumuman Hinata. “Apa kau yakin, Hinata?” Kiba yang bertanya, mewakili semuanya.
“Ya. Aku akui, semua yang telah ku lakukan pada Naruto-kun selama ini sangatlah jahat. Aku menyesal. Aku ingin menebusnya dengan mengabdikan sisa hidupku hanya pada Kami-sama. Maaf,” katanya dengan suara bergetar, menahan emosi yang menyesakkan dadanya.
Semua orang saling lirik. Mata mereka saling bertanya. Lalu mengangguk secara serempak. Secara tidak langsung, mereka sudah memaafkan Hinata. Sebetulnya, mereka ingin Hinata membuat pengakuan dosanya pada Naruto. Tapi, itu tidak mungkin karena itu berarti membongkar kisah kelam Naruto usai perang dunia keempat. Biarlah semua itu jadi rahasia dan Naruto bisa memulai lembaran hidupnya yang baru. Sesuatu yang seharusnya diterima Naruto.

Beberapa bulan kemudian

Siang itu, Konoha kedatangan empat orang tamu istimewa. Pertama, mantan hokage mereka yang paling tampan versi majalah Konoha, yakni Sasuke Uchiha. Ia menatap datar desa kelahirannya yang tak mengalami banyak perubahan. Kakashi berjasa besar menjaga keaslian desanya, meski ada sentuhan modernisasi di beberapa sisi.
Tamu kedua yakni seorang kage dari desa Suna. Namanya tahu kan? Gaara, kazekage kelima Suna sekaligus yang paling tampan. Sebetulnya, Gaara dilarang ikut Sasuke. Ia bahkan menyindirnya sebagai Kage yang kurang pekerjaan, yang terlalu banyak waktu santai, hingga yang hobi melimpahkan tanggung jawabnya pada bawahannya. Tapi, Gaara tidak menggubrisnya. Ia memaksa ikut.  Tamu ketiga dan keempat adalah, Naruto yang hari ini tengah menggendong Menma.
Tampak Menma yang memberontak ingin turun. Ia merasa sudah besar. Ia malu karena ayah favoritnya masih saja suka menggendongnya, padahal ia kan sudah bisa berjalan di atas kedua kakinya sendiri. Naruto terkekeh geli mengabaikan rontaan tidak terima Menma, anak angkatnya.
Naruto mengangkat Menma sebagai anak setelah melihat betapa tidak akurnya Menma dengan ayah kandungnya, Sasuke. Ia begitu menyayangi Menma hingga hatinya sakit melihat kesedihan di mata Menma. Ia seperti memiliki ikatan batin dengan Menma, seolah-olah Menma ini anak kandungnya sendiri. Ikatan ini lebih dari ikatan ayah-anak. Ikatan yang Naruto rasakan bahkan sudah sampai tahap ibu-anak, seakan ia yang mengandung Menma. Aneh, kan? Naruto sendiri juga tidak mengerti kenapa ia bisa memiliki perasaan seperti itu.
Naruto mengerjabkan bulu lentiknya, untuk mengusir pemikiran yang bukan-bukan dari benaknya. “Menma lihat deretan patung di atas bukit sana! Patung keempat dari kiri. Itulah patung kakekmu. Namanya Minato Namikaze. Kakekmu dulunya hokage keempat. Hebat, kan?” Naruto berkata sambil menunjuk patung yang dia maksud.
Menma memiringkan kepalanya imut. Lalu, ia tersenyum lebar dan menunjuk-nunjuk senang. Hidung mancungnya terlihat mendongak angkuh. Meski ia tahu ia bukanlah cucu kandungnya, tetap saja ia bangga karena memiliki seorang kakek yang berkedudukan sebagai hokage. Coret Sasuke. Ia tak mau mengakui Sasuke sebagai hokage. Baginya, hokage itu hanya Hashirama, Tobirama, Hiruzen, Minato, Tsunade dan terakhir Kakashi.
Samar-samar, ia mendengar dengusan lemah Sasuke, pamannya di belakangnya. Ia mengerti alasan di balik dengusan Sasuke. Menma menoleh dan lalu memeletkan lidahnya, mengejek sang paman. Ia sampai detik ini masih tak mau mengakui Sasuke sebagai pamannya, karena ia jahat. Masak ia mengaku sebagai ayah kandungnya dan memaksa Menma mengakuinya. Padahal kan bukan. Menurutnya, itu fitnah. Karena itulah, Menma selalu saja memusuhinya dan menolak kehadirannya.
Lalu, Menma mendengar tawa tertahan dari paman Gaara yang berjalan beriringan dengan Sasuke. Ia memberi Gaara, paman kesayangannya yang selalu ingin dipanggil ayah sama seperti Naruto dan Sasuke, sebuah senyuman simpul. Gaara satu dari tiga orang yang kehadirannya bisa ia tolerir, selain Kankurou dan Matsuri. Tapi, hanya Narutolah yang ia ijinkan untuk mengurusnya. Bahkan, ia tak keberatan jika Naruto mencium dan menowel-nowel pipinya. Coba Sasuke! Tidak dilempari batu saja ia sudah syukur.
Menma lalu mencium aroma masakan yang disukainya, tak jauh darinya. Itu bau dango. Dango yang baru saja dimasak. Salah satu sifat yang menurun dari ayah kandungnya adalah kesukaannya pada makanan kecil itu. Menma menatap Naruto, merayunya agar memberinya uang untuk membeli dango. Naruto menghela nafas pasrah. Ia lalu memberi Menma uang. Begitu uang sudah ada di tangan, Menma langsung berlari diikuti Gaara ke kedai yang menjual dango.
“Dasar Menma,” gumam Naruto.
“Biarkan saja.” Nada bicara Sasuke tenang. Tidak ada emosi. Padahal tangannya sudah gemas ingin menjitak kepala keponakannya itu. Uchiha tidak seperti itu. Uchiha tidak tertawa lebar, tidak menatap berkaca-kaca, tidak lari  serampangan, Uchiha tidak kekanak-kanakan. Intinya Uchiha harus selalu cool dan kalem kapanpun dan dimanapun ia berada.
Naruto baru mau mengajak Sasuke mampir ke pasar untuk membeli bahan-bahan makanan, ketika ia melihat seseorang yang dikenalnya. Tangan Naruto sudah terangkat ke atas. Mulutnya membuka menyapa, “Hai!”
Sambutan orang itu sungguh di luar dugaan. Ia bersiul dan mengedipi Naruto genit. “Hai cantik. Kau baru datang ke Konoha ya?”
Naruto melongo, terkejut. “DIAM KAU, SAI!” raung Naruto begitu ia pulih dari acara melongonya. Teganya Sai melakukan itu padanya. Jika hanya dibilang ehem ‘itu’ nya kecil, ia masih bisa terima. Tapi, cantik? Astaga! Itu penghinaan namanya. Dia itu cowok tulen. Dan, tidak ada cowok yang suka dipanggil cantik.
Sai sama terkejutnya dengan Naruto. “Astaga. Ini kau, Naruto.” gumamnya dengan mata membelalak lebar, tak percaya.  Ia langsung menguasai keadaan saat matanya menangkap aura berbahaya dari Naruto dan Sasuke yang sudah memicing jahat padanya.
Sai tertawa gugup. “Maaf, tadi aku tak melihatmu. Aku..maksudku aku tadi sedang…” Sai berfikir mencari alasan yang logis. “…menyapa Sakura. Ya, Sakura. Hai Sakura. Aku sudah beberapa minggu tak melihatmu. Kau tambah cantik saja.”  Lanjutnya setengah meracau. Matanya dengan panic meminta bantuan Sakura.
Naruto membalikkan tubuhnya baru menyadari kehadiran Sakura. Semenjak koma, kemampuan ninjanya kembali ke masa saat ia masih genin. Beberapa bulan ini, ia sedang berlatih untuk mengembalikan performanya seperti sedia kala. Latihannya sudah hampir menyamai kemampuannya yang dulu. Hanya kemampuan sensornya yang belum. “Sakura-chan,” sapa Naruto riang.
Sakura baru mau menjawab, ketika ada orang bodoh lain yang lagi-lagi menggoda Naruto dengan berani. Ia bahkan dengan berani menyentuh pundak Naruto. Naruto yang kesal langsung menghajar orang itu hingga babak belur. Karena tidak mengira bakal dihajar, orang itu langsung tepar di tempat.
Sakura meringis. Kiba yang datang bersama Sakura membatin, ‘Untung indera penciumanku kuat. Jadi, aku tidak bernasib sial seperti dia,’ Sasuke menatap datar. Sudah biasa soalnya. Makanan sehari-harinya kalau boleh bilang. Sai menggigit bibir bagian bawahnya. ‘Hampir saja aku bernasib seperti dia,’ pikirnya ngeri.
“Itu korban ke berapa?” tanya Sakura pada Sasuke setelah Naruto dan Sai pergi membawa orang, korban KDRT Naruto ke rumah sakit.
“Ke 100 atau ke 500? Entahlah. Aku sudah berhenti menghitungnya sejak tiga bulan yang lalu.”
“Kau tak bisa melakukan sesuatu untuk mencegahnya?” Kiba yang bertanya.
“Apa?” tanya Sasuke datar. “Itu sudah takdirnya.”
“Kau terdengar seperti Neji,”
Sasuke mengedikkan bahunya, acuh. “Itulah harga yang harus kita bayar. Kyuubi sudah memperingatkan sebelumnya.”
“Tapi, apa kita tak bisa mengurangi efek sampingnya. Feromon Naruto sangatlah kuat. Aku saja kalau tidak ada Akamaru mungkin juga akan bertingkah bodoh seperti dia.”
“Tidak,”.
“BTW,” Sakura menatap Sasuke aneh.  “Kenapa kau tidak terpengaruh?”
Oniks Sasuke menatap Sakura dingin. Nafasnya terdengar menderu. Oh, ternyata ia tidak setenang seperti yang diperlihatkannya. Sasuke tak akan mau mengakuinya. Tapi, ya, ia juga terpengaruh feromon Naruto. “Kyuubi,” Itulah jawabannya. Kyuubi tak akan membiarkan Sasuke mendekati Naruto. Menma masih bisa diampuni Kyuubi, tapi Sasuke tidak.
Kiba mengikik geli. “Bagaimana dengan Gaara, Kankurou dan orang-orang Suna?”
“Mereka sudah diurus Ichibi.”
“Fiuhh.. mengerikan.” Kata Kiba ngeri, namun bibirnya melekuk, pertanda jika ia menganggap situasi ini lucu. “Karena itukah, Naruto memotong rambutnya cepak?” tanyanya usil.
“Ya. Gara-gara itulah, Menma ngamuk dan merajuk beberapa minggu.”
“Oh, WOW. Sepertinya, beberapa hari ini, aku akan melihat Neji diganggu Menma.” Kata Kiba hampir ngakak karena geli. Lucu juga melihat Neji yang biasanya sok kalem dibuat gusar.
“Sudahlah. Jangan dibahas lagi!” Sakura yang berkata. Nadanya terdengar netral, tapi wajahnya tampak aneh. Pertanda, jika ia hampir tidak kuat menahan geli. Tinggal selangkah lagi, tawanya pasti meledak. “Aku ucapkan selamat datang kembali Sasuke. Senang melihatmu,” kata Sakura akhirnya.
“Terima kasih. Kedatanganku ke sini selain untuk berziarah juga untuk meminta bantuan kalian.”
“Apa?”
“Mewujudkan mimpi Naruto, menjadikan dia seorang hokage.”
Senyum Kiba melebar. Begitu pula dengan Sakura. “Tenang saja. Kami sudah mempersiapkannya.”
“Hn,” gumam Sasuke puas.
Dan, cerita ini pun berakhir dengan Happy ending.

THE END

Jumat, 20 Januari 2017

The Secret Part Lima



Summary : “Apa kau tahu siapa ibu kandung Menma?” tanya Gaara mengalihkan topic. Sasuke tak menjawab. Ia memalingkan wajahnya. “Jadi, benar kau tahu.” Kata Gaara sambil tertawa getir. “Aku bukan ayah Menma,” kata Sasuke. Gaara mendengus. “Kau pikir aku percaya? Hanya kau seorang Uchiha yang tersisa di dunia ini,” “Kalau kau berkata seperti itu, berarti Naruto tidak menceritakan semuanya padamu,” Not Yaoi.
DISCLAIMER : Naruto Belongs to Masashi Kishimoto
Genre : Friendship dan Hurt/Comfort
Rating : T
WARNING : Ide pasaran, bertebaran typo, gaje, Canon dan bashing beberapa chara.
Author Note : Ada sedikit penyimpangan seksual dalam cerita ini. Tapi bukan yaoi, melainkan aseksual artinya seseorang yang tidak begitu tertarik pada kehidupan seksual.
Percakapan antara manusia dengan bijuu Ai tulis dengan huruf dibold, biar jelas.
“blablabla..” percakapan biasa.
“blablabla..” percakapan dengan bijuu


Don't Like Don't Read

Chapter Five part One

Naruto sekarat. Berita itu bagaikan petir yang menyambar di siang bolong. Hinata tertegun, terlalu terkejut mendengar kabar ini hingga otaknya blank, tidak bisa berfikir. Tubuhnya kaku dengan mata terbelalak lebar. Tapi, untunglah ia tengah menundukkan kepala, sehingga ekspresinya saat ini tak bisa dilihat oleh lawan bicaranya.
Hinata mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga jari-jarinya memutih di atas kimono putih, gaun pengantinnya yang ia warisi dari mendiang ibunya. Ia menahan emosi yang menggelegak dalam dirinya. Tubuhnya saat ini seperti lahar yang mendidih dan siap meletus kapan saja. ‘Sial. Ini bisa merusak rencanaku,’ pikirnya geram.
Ia menarik nafas panjang dan menghembuskannya secara perlahan untuk melarutkan kegalauannya. Lalu, ia menengadahkan kepalanya, memamerkan senyum  yang menawan yang mampu membuat sebagian besar laki-laki bertekuk lutut di depannya. Dengan suaranya yang lembut dan manis, ia berkata, “Jika memang itu keputusan Sasuke-kun, aku terima. Tapi, aku tak setuju jika pertunangan kita dibatalkan.”
“Hinata, aku..”
“Ssst…, aku tahu apa yang mau kau katakan, Sasuke-kun…” Diam sejenak. “..dan aku tak mempersalahkannya. Aku sama seperti Sasuke kun, turut bersedih dengan kabar sakitnya Naruto. Aku pun ingin melihatnya sembuh. Karena itu, aku setuju jika Sasuke-kun ingin menunda acara pernikahan kita. Aku tak keberatan. Tapi…, bolehkan aku ikut Sasuke-kun ke Suna? Aku juga ingin membantu, meski aku bukanlah master dalam bidang medic nin seperti Sakura-san.” Jelas Hinata terdengar penuh simpatik.
Sasuke diam, berfikir. Oniksnya menatap menyelidik, berusaha membaca isi pikiran calon istrinya ini. Lalu, ia mengangguk samar. “Kita berangkat besok. Bersiaplah.” Kata Sasuke singkat, padat, dan jelas. Setelah itu, ia berpamitan dengan sopan.
Hinata mengantar tunangannya yang seharusnya hari ini menjadi suaminya dengan senyuman. Akan tetapi, saat Sasuke sudah membalikkan punggungnya, senyumnya menghilang dari wajah cantiknya. Bibirnya yang tadi bicara manis, semanis madu kini mendesis seperti ular berbisa. Sorot matanya tak lagi lembut, melainkan penuh amarah dan kebencian. Tak ada belas kasih terpancar dari iris lavendernya.

SKIP TIME

Di pintu gerbang Konoha, berdiri berjajar Sasuke, Hinata, Kakashi, Gaara yang tengah menggendong Menma di punggungnya, dan jangan lupa tim Hebi. Tim Hebi dan Sasuke itu seperti saudara kembar yang tak terpisahkan.  Mereka memaksa ikut, meski tidak diajak.
“Hati-hati di jalan,” kata Kakashi melepas rombongan Sasuke.
Sasuke mengangguk mewakili rombongannya. Ia baru berjalan tiga langkah, ketika ia menangkap rombongan lain beberapa langkah di depannya. “Sedang apa kalian?” katanya tajam menusuk.
Temari salah tingkah dan menutupinya dengan berpura-pura membetulkan tutup kepala Shikadai anaknya. Kiba pura-pura menatap langit yang hari ini biru cerah, malas menjawab. Shika? Ia cemberut karena teman-teman seperjalanannya dengan teganya melemparkan tanggung jawab padanya. Shika bergumam dan menggerutu lirih.
“Aku menunggu,” kata Sasuke terdengar tidak sabar. Matanya berkilau aneh membuat bulu-bulu halus di tengkuk Temari, Shika dan Kiba meremang. Tubuh ketiganya bergidik samar.
Shikamaru tertawa kecil, untuk menutupi ketegangannya. “Well, beberapa minggu ini, Temari terus menerus mengeluh, menderita homesick. Jadi, aku berpikir untuk mengajaknya ke Suna. Hitung-hitung memperkenalkan desa kelahiran Temari pada Shikadai,” kata Shikamaru beralasan. Temari mengangguk untuk memperkuat alasan suaminya. Tangan kanannya dengan setiap menggandeng tangan putranya Shikadai yang baru berumur 5 tahun 4 bulan.
‘Huh, alasan.’ Batin Sasuke tak percaya. Mana ada orang baru merasakan homesick setelah 6 tahun berlalu? “Anakmu masih terlalu kecil untuk bepergian jauh. Kasihan dia. Nanti kelelahan,” Secara halus, Sasuke menyuruh rombongan keluarga kecil Nara ini kembali ke rumah.
“Kami bisa bergantian menggendongnya,” kata Temari dan disambung Shikamaru, “Menma masih balita, tapi ia tak masalah bepergian dari Suna-Konoha.”
“Menma berbeda. Ia Uchiha,” Kata Sasuke yang dengan angkuhnya mengagungkan klannya. ‘Dan ia memiliki cakra Kyuubi,’ tambah Sasuke dalam hati. Kiba yang duduk di atas Akamaru di samping kanan Shikamaru mendengus keras yang untunglah berhasil ia samarkan menjadi bersin kuat. Sasuke berpaling padanya. Matanya melotot galak. “Dan kau, apa alasanmu? Homesick juga?”
“Tidak. Aku hanya ingin berlibur ke Suna, menikmati waktu cuti panjangku. Kata Gaara, di Suna ada banyak mawar hitam —salah satu jenis tanaman yang sangat langka— yang tumbuh secara liar. Aku ingin memberikannya pada ibuku sebagai hadiah.” Kata Kiba. Sebuah alasan yang sangat mengada-ada. Tapi, Sasuke tidak akan tahu karena ia tak pernah pergi ke Suna. “Guk..gukk..gukk..!” Akamaru menyalak, secara tidak langsung membenarkan ucapan tuannya.
Mata Sasuke menyipit curiga. Meski tak tahu benar tidaknya di Suna ada mawar hitam, tapi ia bisa mencium bau kebohongan dari rombongan Kiba, Shikamaru, Temari, dan Shikadai ini. “Batalkan saja!” kata Sasuke memberi perintah.
“Tidak mau. Memangnya kau siapa? Seenaknya saja menyuruh-nyuruhku. Kau ini sudah bukan hokage, Sasuke.” Balas Kiba sengit sambil menggerutu.
“Balik!” hardik Sasuke galak.
“Ogah,” balas Kiba menantang.
“Balik!”
“Ogah,”
“Balik atau..”
“Sudahlah Sasuke, biarkan Kiba ikut.” Potong Gaara lelah dengan perdebatan yang mungkin tak ada akhirnya ini. Watak Kiba hampir mirip dengan Naruto. Sama-sama keras kepala. Sasuke menoleh dan mendelik pada Gaara, tidak terima keputusannya digugat. “Memangnya kau bisa memisahkan mereka?” dalihnya. Gaara menunjuk Menma yang sudah lepas dari gendongan Gaara dan kini menaiki punggung Akamaru bersama Kiba dengan dagunya.
Sasuke mendesah. ‘Seperti rombongan badut saja,’ batinnya jengkel. Dengan kemarahan tertahan, ia terpaksa menerima rombongan Kiba-Shika-Tema-dan-Shikadai. “Jangan macam-macam di jalan. Jangan bicara sembarangan. Jangan pergi seenaknya. Jangan membuat masalah. Jangan..”
“Sasuke, aku ini sudah dewasa. Sudah bisa jaga diri. Aku tahu apa yang harus dan tidak boleh ku lakukan,” Bentak Kiba tersinggung.
“Oh, ya?” pekik Sasuke pura-pura terkejut. “Maaf aku lupa. Ku pikir tadi aku sedang bicara dengan genin menjengkelkan yang hobinya membantah sensei pembimbingnya,” sindirnya.
“Grrrr…” Kiba menggeram tidak terima dengan sindiran kasar Sasuke. ‘Si bedebah itu memang minta dihajar,’ pikirnya geram. Matanya melotot galak. Sasuke yang digalaki memprovokasinya dengan memberinya tatapan meremehkan. Geraman Kiba semakin nyaring. Jika bukan karena ada Menma dan Shikadai di dekatnya, ia pasti sudah menempeleng wajah menyebalkan Sasuke itu.
Shikamaru menggeleng-gelengkan kepala, prihatin dengan tingkah laku kekanak-kanakan teman-teman seangkatannya. “Mendokusai,” gumamnya ketika istrinya menyenggol lengannya, menyuruhnya dengan isyarat mata untuk menghentikan pertengkaran SasuKiba. “Kapan kita berangkat? Matahari sudah mulai terik, nih.”
“Hn,” gumam Sasuke.
“Yup, sekarang ayo berangkat!” kata Kiba yang diamini dengan salakan Akamaru.
“Kau bukan pimpinan rombongan ini, Kiba.” Kata Shuigetsu mengingatkan sambil berjalan santai di samping Karin. “Jadi jangan main perintah saja,” sambungnya.
“Aish. Sudahlah jangan dibahas lagi. Aku capek mendengar pertengkaran tidak bermutu kalian.” Omel satu-satunya gadis Uzumaki dalam rombongan ini. Ia memelototi Kiba yang sudah buku mulut lagi, berniat membantah dan menyuruhnya diam. Dan, Kiba yang untungnya cukup cerdas, memilih bungkam daripada adu mulut dengan Karin. Yakin, jika sampai kiamat pun ia tak akan menang.
Ternyata, perjalanan ke Suna kali ini memakan waktu yang cukup lama. Ada sekitar sebulan lebih. Tak sesuai dengan rencana Sasuke semula. Ini karena mereka terlalu sering beristirahat. Mereka terpaksa melakukannya karena mempertimbangkan kesehatan Menma dan Shikadai. Demi keduanya, mereka harus rela mengalah.
Sesampainya di Suna, Kankurou menyambut mereka di pintu gerbang dengan wajah panik. “Gaara, syukurlah kau sudah pulang.” Kelegaan menghiasi wajahnya yang mulai dihiasi guratan-guratan samar.
“Ada apa? Apa Suna baik-baik saja?” tanya Gaara ikut cemas. Dadanya berdegup kencang,  merasakan firasat buruk.
“Suna baik-baik saja. Tapi, Naruto tidak. Kondisinya semakin parah.”
“Parah bagaimana?” Ini bukan Gaara yang bertanya, melainkan Sasuke yang dengan tidak sabarannya mencengkeram kerah baju Kankurou, melupakan sopan santun dan etika yang sudah ditanamkan kedua orang tuanya sejak usia dini.
“Aku..aku juga tidak tahu. Tapi.., Ichibi meracau. Wajahnya terlihat ketakutan dan panic. Belum pernah ia begini. Ia bahkan memanggil saudara-saudaranya ke Suna. Sekarang, mereka berkumpul dan mengerahkan segenap cakra mereka untuk menolong Naruto.”
“SIAL!” umpat Sasuke kasar. Ia mengangkat tangan. “Jangan menceramahiku soal language. Ini tak akan terulang lagi,” katanya pada Gaara tahu diri. Ia bergegas mengikuti Kankurou dan Gaara yang berjalan cepat di deretan paling depan. Punggungnya terlihat kaku dan tegang. Ia tidak menoleh ke belakang satu kali pun untuk melihat apakah rombongannya mengikutinya atau memilih istirahat di penginapan. Ia bahkan mengabaikan Menma yang masih digendong Akamaru-Kiba.
Sasuke terkesiap menatap sosok yang dikenalinya sekaligus yang tidak dikenalinya yang sedang berbaring di atas ranjang. Fisik Naruto dalam waktu beberapa tahun belakangan ini banyak berubah. Klon Naruto yang datang ke Konoha tempo hari pastilah sangat special karena ia bisa bertindak dan berfikir sendiri, seolah-olah terpisah dari jiwa Naruto. Bahkan bentuk fisiknya pun berbeda dengan fisik Naruto yang sekarang. Air matanya mengalir tanpa ia sadari. Kedukaan dan kesedihan mengisi rongga-rongga dadanya. ‘Oh, ya Tuhan. Naruto,’ katanya dalam hati.
Tubuh Naruto sangatlah kurus, hingga hanya tersisa tulang dan sedikit daging yang menghiasainya. Wajahnya tirus dengan tulang pipi yang menonjol. Rambutnya kusut masai dan tak bercahaya menunjukkan jika ia pasti sudah lama sekali tak merasakan sentuhan matahari. Matanya terpejam erat. Jika tidak melihat dadanya yang naik turun secara teratur meski lemah, Sasuke pasti berfikir jika Naruto sudah meninggal.
“Kenapa bisa jadi begini?” tanya Sasuke lirih, entah pada siapa.
“Cakra Kyuubi memakan hampir sebagian besar tubuhnya, karena itu ia seperti ini.” jawab Yonbi, bijuu yang paling bijak diantara mereka bersembilan.
“Bukannya Naruto dan Kyuubi sudah berteman. Kenapa sekarang ia menyakiti Naruto?” tanya Karin yang rupanya ikut menyertai Sasuke. Tangannya memegang data rekam medis Naruto yang diberikan tim medis Suna. Ia dengan telaten memeriksa tubuh Naruto, lalu menggeleng muram. Para bijuu itu benar. ‘Naruto mungkin sudah tak tertolong lagi.’ Batinnya sedih.
“Itu di luar keinginannya. Kyuubi mulai berubah dan mengarah pada kegilaan. Naruto berusaha menolong Kyuubi. Ia meminjamkan cakranya untuk menetralisir kebencian Kyuubi. Dan, beginilah akibatnya sekarang.” celetuk Hachibi. Wajahnya terlihat penuh sesal.
“Jika kami tidak menyalurkan cakra kami pada Naruto dan andai Naruto bukan seorang Uzumaki, ia pasti sudah tewas dari kemarin-kemarin. Tapi, mungkin ini sudah penghabisan. Jiwa Naruto sudah pergi terlalu jauh. Aku hampir tak bisa merasakan hawa kehidupannya,” Ganti Yonbi yang buka mulut. Wajahnya memperlihatkan keprihatinan yang mendalam. Naruto satu-satunya orang yang ia kenal begitu perduli pada sesama. Ia bahkan perduli pada nasib para bijuu yang selama ini dianggap monster oleh sebagian  besar orang.
Sasuke mengepalkan kedua tangannya, tahu kira-kira siapa si brengsek yang paling pantas disalahkan untuk kegilaan Kyuubi dan juga sekaligus penderitaan Naruto. “Aku akan coba bicara dengan Kyuubi. Kalian lakukan apa yang bisa kalian lakukan untuk menolong Naruto,” katanya kemudian.
Sasuke memejamkan matanya, tak menunggu apakah intruksinya dipatuhi ataukah tidak. Baginya itu tidak penting. Yang terpenting dan mendesak saat ini adalah bicara dengan Kyuubi.
“Uchiha,” desis sebuah suara dari balik dinding-dinding kegelapan.
Sasuke pikir ia akan menemukan seekor rubah berwarna oranye berukuran gigan di dalam sebuah kerangkeng besar, seperti pada pertemuan pertamanya dengan Kyuubi yakni ketika Naruto muncul di salah satu markas Orochimaru untuk membawanya pulang ke Konoha. Ia salah. Salah besar.
Bentuk Kyuubi masih sama, masih seekor rubah berukuran besar. Tapi, warna bulunya berbeda, jauh lebih gelap dari yang terakhir diingatnya. Begitu pula dengan auranya. Aroma kemarahan, kebencian dan dendam terasa pekat menyebar menyelubungi seisi ruangan. “Astaga, apa yang telah terjadi,” katanya pada dirinya sendiri.
Makhluk yang Sasuke yakini Kyuubi menjulurkan cakar besarnya dari balik celah jeruji, berniat mencakar Sasuke. Namun apa daya, tangan tak sampai. Jeruji-jeruji itu dengan efektif menahannya. “Uchiha! Kesini kau! Akan ku koyak tubuhmu hingga tak berbentuk,” geramnya. Matanya menyala berpendar berwarna kemerah-merahan dari balik tirai kegelapan kerangkengnya.
“Kita bisa membahas ini lain waktu,” kata Sasuke berusaha untuk tidak terdengar dingin. Kyuubi punya alasan yang sangat bagus untuk membencinya. Secara tidak langsung, ia terlibat pada kekacauan ini.
“Aku tak punya waktu bercakap-cakap dengan makhluk rendahan sepertimu,” raung Kyuubi.
Sasuke menghela nafas panjang. Ia mendekati, menyentuh ujung cakar Kyuubi yang membuat Kyuubi bergerak liar mencakari tangan Sasuke. Sasuke tak menghindar, ia membiarkan Kyuubi melampiaskan kemarahannya pada tangannya. “Aku minta maaf atas kelakuan kakakku yang telah membuatmu jadi begini.” Katanya penuh simpatik.
Kyuubi tertegun. Cakarnya terhenti di udara. “Aku tahu aku bersalah. Secara tidak langsung, aku terlibat.” Kata Sasuke lagi. Kyuubi menggeram sebagai balasan. “Semua ini karena aku. Aniki melakukan ini karena aku. Seandainya saja aku tidak menggila, aniki tidak akan melakukan hal serendah ini padamu. Semua ini karena besarnya cintanya padaku. Ia ingin aku tidak semakin jatuh dalam kegelapan. Ia ingin memberiku cahaya, seutas tali penyelamat. Karena itulah ia…” Sasuke terdiam, menggeleng penuh sesal. “Sekali lagi, maaf.”
Grrr…! “Apa kau pikir maafmu berarti, Haah? Tidak. Hatiku tidak akan puas sebelum memutilasimu dan memakan tubuhmu hingga tak bersisa.”
“Aku tahu. Sekali lagi, aku tahu.” Ujar Sasuke tenang. “Kau boleh membunuhku nanti. Tapi, beri aku waktu untuk menyelamatkan nyawa Naruto.” Kyuubi tersentak, menatap Sasuke nanar. Sasuke seperti melihat kesedihan membayangi irisnya. “Aku tahu, kau tak perduli pada apapun dan siapapun di dunia ini. Bahkan tidak pada darah dagingmu sendiri, Menma. Tapi, bagaimana dengan Naruto?” ujar Sasuke membujuk.
Kyuubi menatap Sasuke, membaca raut wajahnya. Meski wajahnya datar, nyaris tanpa ekspresi, akan tetapi ia bisa melihat kesungguhan tekadnya. “Apa yang kau inginkan, Uchiha?”
“Bantu aku. Beri tahu aku, bagaimana caranya menolongnya?”
Kyuubi diam. Matanya masih menatap Sasuke tak berkedip, mengawasi setiap gerak-gerik Sasuke, seolah-olah menunggu Sasuke membuat kesalahan. Tapi, Sasuke sama diamnya dengan Kyuubi. Akhirnya Kyuubi mengalah. Ia menggelengkan kepalanya dan tertunduk lesu, “Jika aku tahu caranya, apa kau pikir aku akan diam saja? Lebih dari siapapun, aku ingin ia selamat. Tapi…” Kyuubi kembali menggeleng.
“Apa memang sudah tidak ada jalan?” ujar Sasuke serak, menyerupai suara orang  yang sedang tercekik. Ia pernah melihat berbagai hal di dunia ini. Saat klannya dibantai, ia jatuh dalam kebencian, kemarahan. Saat ia berhasil membunuh kakaknya, ia mati rasa. Bukan kelegaan atau kebanggaan seperti harapannya. Saat berhadapan dengan Kagura, rasa takut menghimpit dadanya. Tapi, baru kali ia merasa luar biasa takut. Lehernya seperti dicekik oleh keputus asaan.
Kyuubi berfikir. Ia teringat jutsu rahasia Rikudou sennin, tapi ia ragu apa itu bisa menolong Naruto. ‘Lebih baik mencoba dan gagal daripada menyesal karena tidak melakukan apapun,’ pikirnya. “Cara ini mungkin bisa, namun harga yang harus kau bayar sangatlah mahal.”
“Aku siap menerima resikonya,”
“Hm. Kemarilah!” panggil Kyuubi. Ia berbisik pada Sasuke.
Sasuke tercengang. “Haruskah?” tanyanya. Kyuubi mengangguk. “Aku mengerti. Aku akan mengurusnya,” kata Sasuke berpamitan.
Kyuubi di kandangnya menatap Sasuke dengan pandangan yang sulit diartikan. Hatinya berkecamuk, tercabik antara kebenciannya pada klan Uchiha dan kepeduliannya pada Naruto. Di satu sisi ia ingin membunuh Sasuke. Lalu, Menma. Tapi, di sisi lain, ia juga sangat berharap Uchiha brengsek itu bisa menolong Naruto, satu-satunya cahaya, pengikat terakhirnya agar tetap waras. Hanya Kami-sama yang tahu apa yang akan terjadi pada Kyuubi dan para bijuu di dunia ini jika Naruto mati. “Semoga kau berhasil Uchiha. Semoga!” doanya.
“Aku sudah tahu caranya menyelamatkan Naruto,” kata Sasuke begitu matanya terbuka.
“Apa?” tanya Hachibi.
“Kita bicarakan ini di tempat lain.” Kata Sasuke. Ia menoleh pada rombongannya minus keluarga Nara dan Menma yang memilih istirahat di kediaman Sabaku khususnya tim Hebi. “Shui, panggil Nara kemari!”
“Nara yang mana?” tanya Shuigetsu.
Sasuke hampir menyumpah serapah, lalu ia teringat jika ia yang salah. Keluarga Nara di Suna sekarang ada tiga orang. Wajar jika Shuigetsu bertanya, ‘Nara yang mana?’ “Shikamaru dan Temari.” Kata Sasuke kemudian. Shuigetsu pun menghilang dalam sekejab mata dengan shunsin no jutsunya.
“Boleh aku di sini?” pinta Hinata. “Aku ingin menemani Naruto-kun.” Dalihnya.
Sasuke menyipit curiga. Tapi iris lavender di depannya tak terbaca. Ia sangat pandai menyimpan emosinya sesuatu yang diharapkan ada pada diri tiap keturunan Souke. “Baiklah!” Sasuke mengiyakan karena tak punya alasan untuk melarang.
Setelahnya, Gaara mengajak rombongan Sasuke ke ruang kerjanya untuk membahas rencana penyelamatan Naruto. Sasuke menceritakan isi percakapan dengan Kyuubi.
“Jadi, tugas kita sekarang adalah mencari perjaka ting-ting nih.” kata Shuigetsu menyimpulkan, sambil manggut-manggut. Meski sangsi, ia tetap mengedarkan pandangannya, menelisik pada para shinobi pria yang mengikuti rapat khusus ini. “Apa..?” Shuigetsu sudah hampir buka mulut, tapi Shikamaru menukasnya tajam.
“Jangan melihatku! Aku ini sudah menikah. Mana mungkin masih perjaka,” tukas Shikamaru secara spontan. Mungkin, ia tersinggung soalnya Shuigetsu menatap Shikamaru lebih lama dibanding yang lainnya. Mungkin, ia lupa jika posisi duduknya memang berhadapan langsung dengan Shuigetsu, karena itu intensitas tatapan Shuigetsu secara otomatis memang paling besar padanya.
“Aku juga tahu. Dasar payah!” sahut Shuigetsu merengut masam. “Maksudku selain kau yang sudah menikah dan punya anak. Dan aku tentu saja, karena aku sudah menikah dengan Karin beberapa bulan yang lalu,” Katanya lagi.
“Aku ini perantara ritualnya. Hanya yang berdarah Uchiha yang bisa.” Kata Sasuke yang membuat semua orang curiga jika Sasuke sebetulnya sudah tidak perjaka. Menurut mereka itu hanya dalihnya. “Apa?” bentaknya kasar menatap tajam semua orang yang melihatnya dengan tatapan curiga.
“Bagaimana dengan Jugo?” tanya Kiba mengalihkan topik, tak ingin memperparah kemarahan Sasuke.
“Lupakan saja. Dia sudah menikah.” Bukan Jugo yang menjawab, melainkan Shuigetsu.
“Menikah?” beo Kiba terkejut. Benar ya kata pepatah, air yang tenang itu menghanyutkan. Jugo kelihatannya pendiam, anti social, dan acuh, namun untuk urusan cewek, tangannya cepat juga. Ia bahkan mendahului Kiba yang masih lajang hingga kini.
“Iya. Jangan tanya kapan, karena ini menyangkut privasi,” kata Shuigetsu ketus menusuk, menggantikan Jugo. “Kau sendiri?” todong Shuigetsu tiba-tiba.
Kiba gelagapan, tak siap. “Well, maaf. Aku..”
“Sudah tidak perjaka? Cih, sudah ku duga. Kelihatan dari tampangmu yang mesum itu. Kau pasti minimal sering masturbasi.” Ledek Shuigetsu dengan entengnya mengumbar sisi lain dunia pria. Tak perduli jika yang ada di ruangan ini tidak semuanya kaum Adam.
“Memangnya kenapa? Aku ini pria muda yang sehat dengan hormon yang bergejolak. Apa salahnya jika melakukan..,” Kiba refleks menggigit bibirnya biar tidak keceplosan. Ia nyaris saja bilang sesuatu yang tidak pantas di ruang rapat. Di depan kage pula. Fiuh malunya. Kiba berdehem kecil untuk mengembalikan wibawanya yang tersisa. “Bagaimana denganmu Gaara?” tanyanya spontan menembak korban lainnya.
Gaara tidak langsung menjawab. Ia justru larut dalam pikirannya sendiri. Satu-satunya suara yang keluar darinya adalah ketukan jemari tangannya di atas meja. Setengah jam berlalu dan semua orang masih menunggu satu dua patah kata darinya. “Syarat pertama sih aku tak masalah.” Ujar Gaara akhirnya keluar dari dunia autisnya.
Semua orang di ruangan itu diam-diam nyengir gaje, berusaha menahan tawa, hinggu perut mereka sakit. Gaara jujur banget. Ia dengan santainya mengumbar aib terbesarnya di hadapan banyak orang. Masak udah seusia gini masih perjaka ting-ting. Alamak! Malu dong.
“Tapi, yang kedua…?” katanya lagi tak menyadari tatapan kasihan dari rekan-rekannya. Bahkan, dari para bijuu. Ichibi sendiri saking malunya sampai menenggelamkan kepalanya pada lipatan tangannya yang besar, malu dengan status perjaka ting-ting mantan jinchuurikinya ini. Gaara menggelengkan kepalanya, muram. “Itu tak mungkin aku,” tambah Gaara lagi. Dan, semua orang tersenyum maklum.
Memang sekarang Gaara sudah jadi orang baik, pintar dan gemar menabung. Tapi, dulunya ia mantan psikopat yang hobi membunuh orang sebagai sarapannya. Tak mungkin ia yang diutus menolong Naruto. Sebab, syaratnya harus perjaka ting-ting yang berhati suci. Gaara jelas masuk daftar backlist.
Sekarang tinggal satu orang pria yang tersisa di ruangan itu. Kankurou yang ditatap intens banyak orang jadi merinding disko. “Oke, aku ngaku. Aku juga sudah tidak perjaka.”
“Sudah tahu,” komentar semua orang yang hadir. Mereka juga tak terlalu berharap banyak pada status Kankurou. Hanya ingin kepastian saja dari yang bersangkutan.
Suasananya kembali hening. Semua orang larut dengan pikirannya masing-masing. “Bagaimana dengan Menma?” celetuk Temari.
Sasuke menoleh pada Temari. “Kau mau mengirim Menma langsung menghadap Dewa Kematian? Kyuubi benci setengah mati pada semua orang yang bermarga Uchiha. Tak perduli siapapun dia,” 
“Sasuke benar. Aku pun menolak melibatkan balita dalam misi berbahaya ini,” Gaara menambahkan.
“Lalu siapa? Kau mau mengumpulkan para shinobi Suna dan menanyai mereka satu per satu, apa mereka masih perjaka atau tidak? Itu gila namanya. Aku yakin mereka tak akan mau mengaku. Kalau pun bisa, itu makan waktu banyak. Sedangkan, waktu kita tinggal sedikit.” cerocos Temari tanpa jeda.
“Kau lupa? Masih ada Shikadai. Dia itu sudah genin. Ia memenuhi syarat untuk ritual itu,” celetuk Shikamaru.
“Ah, kau benar juga. Kita mulai sa..” Sasuke terdiam. Ia menatap dari balik dinding. Firasatnya mengatakan jika Naruto dalam bahaya besar. Sasuke tanpa segel menghilang dari ruang rapat. Ia muncul di ruangan Naruto memegang tangan orang itu erat. “Apa yang mau kau lakukan?” katanya dingin.

SKIP TIME

Ia menghampiri Naruto yang tergolek lemah di atas ranjang. Wajahnya terlihat datarm tanpa emosi, menatap lurus wajah Naruto. Ia terus-menerus seperti itu sejak setengah jam yang lalu sepeninggal Sasuke dkk, tak berubah. Ia hanya menatap datar Naruto tanpa melakukan apapun. Hanya menatap, menatap, dan menatap.
Lalu, setelah sejam berlalu, ada sebuah perubahan di sana. Tangannya terangkat ke udara, menyentuh  wajah Naruto dari dahi, pelipis, pipi, mata, hidung, hingga berakhir di dagu secara perlahan. Itu bukanlah sebuah sentuhan sensual, melainkan seperti sentuhan orang buta yang ingin mengenali bentuk wajah lawan bicaranya.
“Naruto,” katanya lirih. Kemudian, ia tersenyum tipis. “Naruto Uzumaki. Salah satu dari pahlawan dalam perang dunia keempat, penyelamat dunia.” Katanya bermonolog, seperti sedang membacakan naskah pidato.
Tiba-tiba, ia mendekatkan wajahnya hingga matanya hanya berjarak 5 cm dengan Naruto, membaui Naruto dan lalu mendengus jijik. “Betapa menyedihkannya dirimu, sekarang Naruto. Sekarat di negeri orang dan sendirian.” ujarnya sambil mendesis menyerupai desisan ular.
Ia menegakkan tubuhnya kembali, berdecak ringan, dan lalu tertawa kecil. “Kau memang payah, Naruto. Pecundang sejati. Seharusnya kau tetap hidup agar aku bisa puas membencimu dan juga menyiksamu.  Tapi…,” Ia tersenyum sinis. “..itu keputusan yang bijak. Sangat bijak.” Ujarnya tepat saat berkas-berkas cahaya sang rembulan di atas sana berhasil memasuki celah-celah kamar, menimpa wajahnya, memperlihatkan kilau matanya yang asing dan tidak sesuai dengan wajahnya yang cantik jelita.
“Pergilah ke alam baka dengan damai Naruto, agar kau tak perlu melihat….” katanya. Dari telapak tangannya keluarlah berkas cahaya berwarna biru atau yang bisa kita sebut cakra. “…aku membunuh dan menyiksa Sasukemu, Kakashimu, Sakuramu, penduduk Konoha dan juga Menma.” Sambungnya mengakhiri kalimatnya.
Deg! Jantung Naruto yang tadinya lemah tampak berdetak kencang. Mulai ada pergerakan dari tubuhnya. Sifat protektifnya sebagai orang tua bangkit hingga ia berhasil mengeliminiasi sekat-sekat keterbatasan. Tapi, gerakannya masih sangat lemah dan sangat lamban. Itu tidak berarti apa-apa baginya. Naruto sudah pasti mati sebelum Naruto berhasil mengelaknya.
Tepat ketika cakra itu sudah berada sangat dekat dengan urat nadinya, sebuah tangan menggenggamnya, mencegahnya memutus urat nadi Naruto. “Apa yang mau kau lakukan?” desisnya dingin, tajam menusuk.
TBC